Twitter Akan Menyediakan Layanan Premium Berbayar

Setelah sekian lama kita bisa menggunakan layanan Twitter secara gratis, rencananya mereka akan menyediakan layanan premium berbayar. Twitter versi berbayar tersebut kabarnya akan disajikan pada layanan TweetDeck, dan akan disuguhkan kepada para pengguna profesional. Sehingga para pengguna profesional itu akan dikenakan biaya berlangganan.

Kabar yang menyebutkan Twitter ingin meluncurkan layan premium itu, pertama kali dikemukakan oleh seorang jurnalis dari New York Times. Jurnalis ini mengunggah bocoran tampilan versi berbayar dari TweetDeck, yang merupakan halaman untuk menampilkan daftar aliran di Twitter.

Twitter Akan Menyediakan Layanan Premium Berbayar

twitter layanan premium berbayar

Di dalam TweetDeck versi premium itu terlihat adanya tool analytics, pemberitahuan breaking news, serta informasi seputar topik tweet dari pengikut pengguna. Kesemua fitur tadi dapat dilihat dalam satu tampilan dashboard, sehingga bisa memberikan kemudahan akses untuk penggunanya.

Saat ini Twitter sedang mengadakan survei untuk memperoleh masukan dari para pengguna, agar bisa membuat TweetDeck lebih bermanfaat untuk pengguna profesional, seperti para marketer dan juga jurnalis. Hal ini disampaikan oleh salah seorang juru bicara dari pihak Twitter.

Juru bicara itu juga menambahkan, “TweetDeck yang baru akan memberikan manfaat lebih banyak dibanding Twitter”. Karena layanan premium dari Twitter ini akan memberikan lebih dari sekedar sosial media. Pengguna bisa memperbarui informasi seputar berita, olahraga, hiburan, politik, dan informasi terkini, melalui dashboard tersebut.

Biaya langganan layanan premium Twitter

twitter-layanan-premium-berbayar

Bocoran yang disampaikan jurnalis New York Times itu juga menyebutkan tentang biaya berlangganan layanan premium tersebut. Pihak Twitter sendiri sedang mempertimbangkan besaran biaya langganannya sebesar $20 dollar Amerika, atau sekitar Rp 267.000 per bulan.

Layanan berbayar yang mereka sediakan, nantinya akan terbebas dari gangguan iklan. Sementara untuk Twitter regular masih tetap bisa digunakan, hanya saja akan diberikan selingan materi promosi. Langkah komersialisasi ini diambil pihak Twitter, karena mereka juga membutuhkan pemasukan selain dari iklan.

Selain itu Twitter selama ini juga belum bisa menjadikan iklan sebagai pemasukan yang besar, meskipun jumlah pengguna mereka sudah mencapai 319 juta pengguna diseluruh dunia. Berbeda dengan Facebook, yang sukses menjadikan iklan sebagai pemasukan besar bagi mereka.