Google+ Ditutup Karena Bocorkan Data User

28

Get real time updates directly on you device, subscribe now.

Celah ketenteraman (bug) di media sosial Google+ mengekspos 500.000 data individu pemakai. Data tersebut mencakup nama, alamat e-mail, pekerjaan, jenis kelamin, umur, dan data-data beda yang dimasukkan pemakai ketika mendaftar. Insiden ketenteraman ini telah terjadi sekitar tiga tahun, dari 2015 sampai Maret 2018.

Namun, Google baru mengumumkannya ke khalayak pada Senin (8/10/2018) masa-masa setempat melewati blog yang resmi. Walau celah keamanan tersebut telah sukses ditambal, Google menyimpulkan untuk menghentikan layanan jejaring sosialnya itu.

Google+ diblokir - News

Ada dalil Google tutup mulut sekitar berbulan-bulan pasca-memperbaiki celah keamanannya. Berdasarkan keterangan dari sumber dalam, Google tak hendak mengundang pemantauan ketat dari regulator. Di samping itu, Google juga hendak mengumumkan insiden ini andai manajemen internal sudah menciptakan keputusan yang bulat, yakni memblokir Google+ guna selama-lamanya.

“Kami bakal menonaktifkan Google+ guna konsumen,” begitu tercantum pada blog sah Google, sebagaimana dihimpun dari Project Strobe, Selasa (9/10/2018). Bukan hanya persoalan ketenteraman yang merangsang Google memblokir Google+, tetapi pun kesadaran bahwa layanan itu tak mengisi ekspektasi pemakai.

Sebanyak 90 persen pemakai Google+ membuka akun mereka tidak cukup dari 5 detik. “Versi konsumen dari Google+ mempunyai tingkat pemakaian dan ikatan (engagement) yang paling rendah,” Google mengakui. Ke depan, Google akan fokus meningkatkan ketenteraman pada layanan-layanannya melewati program audit yang dinamai “Project Strobe”.

Program berikut yang kesatu kali menciptakan Google sadar terdapat bug di Google+ sekitar bertahun-tahun. Project Strobe secara umum akan mengkaji akses semua pengembang pihak ketiga ke data-data Google dan perlengkapan Android.

Pada permasalahan Google+, terdapat 438 software pihak ketiga yang memakai API dengan bug berisiko, seperti diterangkan sebelumnya. Meski belum terbukti ada developer yang memanfaatkan celah ini, urusan tersebut tetap saja adalahtamparan untuk Google. Raksasa teknologi yang bermarkas di Mountain View itu bercita-cita Project Strobe dapat terus dijalankan guna menjamin ketenteraman pemakai.

Baca juga artikel berita teknologi lainnya.