Google, Facebook, Twitter diminta bersaksi terkait pilpres Amerika

Raksasa internet dan jejaring sosial dimintai keterangan terkait pilpres Amerika

Google, facebook, twitter dimintai kesaksian terkait pilpres Amerika

Eksekutif dari Facebook, Alphabet Inc, Google dan Twitter diminta untuk bersaksi oleh Kongres Amerika Serikat beberapa pekan mendatang. Anggota parlemen sedang menyelidiki dugaan campur tangan Rusia dalam pilpres AS tahun 2016, sebagaimana disebutkan oleh salah satu sumber dari panitia pilpres Amerika baru-baru ini.

Ketiga raksasa internet dan jejaring sosial tersebut diharapkan hadir pada 1 November mendatang, dalam persidangan terbuka sehubungan dengan mencuatnya bukti bahwa mereka secara diam-diam dimanipulasi dalam kampanye untuk membantu Donald Trump memenangkan pemilihan presiden, seperti yang diberitakan AFP.

Pemimpin panitia Intelijen Parlemen Amerika Serikat mengatakan akan mengadakan sidang terbuka bulan depan dengan perwakilan dari perusahaan tersebut. Upaya ini dilakukan untuk lebih memahami bagaimana Rusia menggunakan alat dan platform online untuk mempengaruhi pemilihan. “Kongres dan rakyat Amerika perlu mendengar informasi penting itu langsung dari perusahaan-perusahaan ini,” kata mereka.

Perwakilan dari Facebook dan Google mengkonfirmasi bahwa mereka telah menerima undangan dari komite Senat namun tidak mengatakan apakah akan hadir.

Facebook telah mengungkapkan bahwa ada pembeli yang diduga terkait dengan Rusia memasang sekitar 3.000 iklan di lamannya tahun lalu dengan membayar 100.000 dollar AS (sekitar Rp1,35 miliar) untuk mempengaruhi pemilu AS.

Menurut laporan, iklan tersebut bertujuan untuk Hillary Clinton dan mempengaruhi calon pemilih yang akan berakibat pada kerusakan suara untuk Clinton.

Pimpinan keamanan Facebook, Alex Stamos menjelaskan bahwa iklan yang dibuat akun ini tidak secara spesifik merujuk kepada pilpres Amerika. Akun tersebut membuat iklan yang mengangkat isu sosial maupun politik yang dapat memecah belah pendapat.

Google, unit dari Alphabet, mengatakan mereka tidak digunakan dalam dugaan kampanye Rusia untuk mengusik pemilu AS.

Tetapi, menurut Buzzfeed, sistem iklan mereka secara otomatis mengarahkan pengiklan ke orang-orang yang melakukan pencarian mengenai isu rasisme dan anti-Semit.

Twitter terbukti menjadi sarang akun palsu dan berita yang memungkinkan terduga operator Rusia mengunggah cuitan anti-Clinton.

Baca juga berita lainnya.